Dengan kesadaran dan tanpa paksaan dari berbagai pihakSeiring lagu-lagu dalam blog ini, ku mengambil kesimpulan bahwa Ku Harus mengakhiri, semoga selepas Anda berkunjung dari blog ini tidak ada lagi yang merasa menyesal mencari berita atau tulisan tentang saya.
Atas nama pribadi, dan dengan segala kerendahan diri kami, harap dimaklumi.
A Bientot
Zürich (kadang ditulis Zurich, tanpa umlaut) adalah kota terbesar di Swiss dan ibukota dari Canton Zürich. Zürich adalah pusat perdagangan di Swiss dan menjadi salah satu kota yang sangat penting di dunia bersama Jenewa. Nama Romawi untuk kota ini adalah Turicum sedangkan dalam dialek Jerman Zürich dikenal sebagai Züri.
Tidak banyak yang dapat kami dapatkan karena jadwal kunjungan ke kota ini hanya tersisa 1 am, karena selama perjalanan dari Wina ke Zurich kami kehilangan 1 jam di jalan tol yang teradi penyempitan jalan dan mengakibatkan macet di Munich. Seperti sudah naluri bagaimana sampai di suatu tempat, kami menuju pusat keramaian seperti stasiun kereta atau pusat pertokoan. Ternyata dalam waktu 15 menit kami mendapatkan kantor “Turis Informasi”, dan bermodalkan peta kami mencari titik² daerah wisata.
Kami tidak seluruhnya mengunjungi, salah satu yang kami dapatkan adalah danau yang paling terbesar di Swiss dan sepanjang kota Zurich terdapat sungai yang mengalir ke Danau tersebut.
Salah satu alat tranportasinya selain trem, bus, kereta ada juga kapal untuk menyeberang atau mengantarkan ke tempat tertentu. Tapi kalo diperhatikan kapal² kecil tersebut hanya untuk wisata.
Kota kecil yang merupakan pecahan dari negara ceko setelah 1988 melepaskan diri dari ceko dan ditahun berikutnya mulain dengan pemerintahan baru. Untuk negara eropa yang baru sudah sangat baik walaupun masih terlihat dibeberapa tempat yang masih dalam perbaikan dinegara tersebut.
Namun sampai di Bratislava, ternyata umumnya terdapat restaurant ala slovakia yang hanya terbuat dari Kentang dan campuran cream dan coklat. Kota yang boleh dikatakan kecil ternyata menampilkan beberapa sejarah bangun selama perang.
(Sorry … update di lanjutin lagi ya, harus siap2 berangkat ke swiss 1 jam lagi)
Waktu 4 jam rasanya cukup untuk mengelilingi kota sekaligus ibukota dari negara slovakia. Seperti umumnya kota² di negara eropa, di kota ini juga terdapat istana yang terdapat di atas bukit. Satu hal yang sangat berbeda, bangunannya tidak ada yang terlihat megah dan tidak ada yang terlihat kumuh. Bahkan kedubes dari negara² asing menempatin di pusat kota tanpa pengawalan atau penjagaan ketat. Bahkan begitu mudah mendekati pintu gerbang kecuali kedubes Amrik yang di pagar jaring² setinggi 3 meter dan tanpa penjaga dari pihak keamanan.
Perjalanan dari Wina ke Bratislava selama 2 jam dengan melalui jalan tol. Sepanjang perjalanan kami melihat kincir angin yang kemungkinan dimanfaatkan untuk sumber energi listrik. Dari informasi yang kami dapatkan dari salah seorang warga jerman yang kebetulan sekamar dengan kami, bapak tersebut menceritakan kalo menuju kota bratislava dapat menggunakan kapal setiap jam sekali. Dan selama pemandangan akan melihat pemandangan yang lebih bagus.
Saat tiba jam 1 tadi siang, berdasarkan pengumuman lokasi penginapan ternyata ada 3 kelompok, dan karena konfirmasi yang terakhir dan kerlambatan pendaftaran, maka kami mendapatkan hotel yang terpisah dengan teman lainnya. It’s ok, khan masih di wina juga mon amis. Setelah masing-masing kelompok sudah meninggalkan tempat kami turun dari Bus TLS yang mengantar kami di Wina, menanyakan kira-kira kearah mana hotel kami. Setelah mendapatkan petugas hotel kami diberitahu untuk naik kereta metro dan kemudian cari alamat tersebut disana.
Mudah sih, tapi sampai sana ternyata kami mengalami masalah arah jalan … jadi tanya lagi ke arah mana hotel kami. So dengan secepatnya kami menuju hotel biar semua bawaan segera disimpan di kamar.
Setelah registrasi selesai, ternyata baru bisa cek in jam 4 sore… “ala makkkkk 2 jam lagi” setelah melihat jam ditanganku baru menunjukkan pukul 2 siang. Jadinya rencana mau mandi dan ganti baju tidak jadi deh .. so akhirnya kami pergi ke penginapan di kelompok lainnya. Kebetulan yang lainnya sudah pada pergi, tinggal beberapa teman yang lagi makan di kebab. So akhirnya aku pinjam kamar buat mandi. Maklumlah dah 2 hari ngak mandi ….. wetssss jangan salah, masih wangi kok.
Setelah mandi, ternyata teman yang lainnya sudah pada pergi … so aku gabung ama kelompok terakhir yang masih ada di hotel dan melakukan perjalanan ke Stephendom. Setelah tanya sana sini, ternyata pusat keramaian dan central perdagangan ada disana. Apalagi cari souvenir, pasti ada disana.
Setelah cari souvenir, kami mengunjungin beberapa bangunan bersejarah dan menjadi khas di wina, hanya melihat dan foto sebagai background kami melakukan foto dibeberapa tempat. Hasil foto yang aku jepret sebagai berikut :
Sebelum melakukan Euro Tour bersama mahasiswa Indonesia di Perancis ke negara Austria, Slovakia dan Swiss aku dan rombongan dari Dijon tiba di kota Lyon untuk berkumpul dengan teman-teman lainnya. Tiba di Lyon 10.35 AM, kami dijemput oleh mas Endra yang dapat tugas menjemput kami. Selain itu ada 11 orang pelajar internasional (2 Pakistan , 3 Peru , 2 Syria, 1 Burkina Faso , 1 Guatemala , 1 Azerbaijan dan 3 Perancis).
Jam 18.00 kami kembali ke aparteman endra untuk mengambil tas sekaligus makan malam sebelum berangkat. Saat menunggu Bus ternyata buat yang tadinya akan tiba 12 menit kemudian, …. dan karena masih dalam kelelahan … seseorang penumpang yang menunggu bus yang sama mengatakan. “Bus tidak ada dalam 1 jam” kami tidak percaya, segera melihat di papan display informasi kedatangan bus, ternyata benar bus yang dikatakn 12 menit akan tiba ternyata tidak akan ada bus dalam 1 jam.
Parahnya kami dalam kondisi capek dan Rizal yang mendapat tugas mendampingi kami harus menjemput teman yang lainnya yang baru tiba. Karena sudah pengalaman dengan masalah membaca peta, segera manfaatkan GPS yang ada di HP dan melihat-lihat peta yang ada di halte. Sekaligus minta dipandu oleh endra gimana kami bisa mencapai bus atau station metro terdekat dari rumahnya. Setelah tiba kami segera makan malam, dan segera berangkat ke Gare untuk berkumpul dengan teman yang lainnya.
Setelah menunggu teman-teman yang mengalami macet (jakarta banget ya) dan masalah bus yang sedang mengalami gangguan (entah apa penyebabnya tidak ada beberapa jalur bus kurang lebih 1 jam), tepat pukul 21.15 bus keluar dari parkiran dan menuju Austria.
Dia awal pemberangkatan karena sebagaian besar adalah mahasiswa Indonesia, ada yang sedang menyanyi lagu yang hit di Indonesia, ada yang lagi ngobrol dan ada yang cuman diam dan melihat teman lain. Bahkan ada yang langsung tidur.
Menjelang tengah malam, kami melintas di perbatasan Perancis dan Swiss di Geneve, kami tidak turun dan sopir hanya melaporkan administrasi sebagai ijin masuk negara swiss. Ternyata tidak ada pemeriksaan paspor di perbatasan, dan perjalanan ke swiss dilanjutkan. selama di swiss kami tidak sempat mampir dan turun. Karena rute tujuan negara terakhir adalah Swiss
Mungkin sudah pada kecapean dan mempersiapkan tenaga untuk hari esok setelah tiba di ibukota Austria. Tak terasa jam 4 pagi bus melakukan istrahat sejenak di salah satu poim bansin yang berada di kota Oberösterreich sebagai kota kelahiran Adolf Hitler di Austria. Kota ini berada diperbatasan antar jerman dan Austria. Kesempatan ini dimandaatkan untuk meluruskan kaki yang terasa pegal selama dalam perjalanan.
Dan kota pemberhentian untuk makan pagi pada pukul 9.00 pagi sambil menikmatin kota Salzburg disalah satu danau disana. Sempat memanfaatkan mengabadikan dengan background danau dan gunung.
Istrahat dan makan pagi hanya diberi waktu 40 menit, dan kami melanjutkan perjalanan ke wina Austria. Setelah menantikan dakan waktu yang cukup lama, akhirnya jam 1 siang kami sudah memasukki kota Wina.
Hari dikatakan sebagai “pesta rakyat” setiap 5 tahun sekali di Indonesia. Mungkin aku tidak melihat langsung bagaimana penyelengaraan di dalam negeri, tapi dari beberapa informasi yang sempat aku dapatkan banyak kejadian yang tak senang di dengar; dari saling sikut space pemasangan baliho, spanduk atau beberapa media iklan baik di radio dan tv. Bahkan entah ini benar aku menemukan di dunia maya banyak iklan pencalonan legislatif di jejaringan pertemanan seperti Facebook dan freindster. Dari menghujat seseorang atau partai, sampai membesarkan dirinya, atau orang lain.
Sampai kapan kejadian seperti ini tidak terulang ? Apakah ada cara yang lebih baik dengan mengurangi cost operatioanal dan resiko dari manipulasi suara ?
Que chaque nuit j’imaginais.
Je m’endormais à ses cotés.
Son beau regard posé sur moi.
Elle devenait ma seule loi.
Et tous mes sens me dominaient.
Sachant déjà que je l’aimais.
Les senteurs fines de son corps.
Jetaient alors sur moi leurs sorts.
La douceur chaude de sa peau.
Hissait mon coeur encore plus haut.
C’était ma femme.
c’était ma vie.
Chaleur….
bonheur….
tendresse qui…
Par son toucher et son sourire.
Hari pertama ke kampus, naik sepeda “PEUGEOT” ku gayung dengan laju
Dah lama ngak posting di blog ini ya tentang cerita2 ku,
Hari ini aku mulai menggayuh sepeda yang kita beli dari suatu tempat
Tempat itu seperti pasar rumput, yang banyak barang2 bekas dan masih layak berfungsi.
Oh iya, pasti ngak percaya kalo sepedanya kudapatkan dengan harga 20 Euro
Dan dalam kondisi bagus dan masih layak
Tapi karena beberapa perlengkapan lampu penerang malam, dan “mata kucing” aku harus pasang dan kunci sepeda saat kuparkirkan. Aku harus menambah beberapa Euro untuk mendapatkan alat2 itu.
Dan sekarang sepedaku sudah bisa aku gunakan di jalan raya.
T’ais-je assez remercié de cette chance unique que j’ai de t’avoir à mes cotés ?
Si belle est devenue ma vie auprès de ton coeur qui me ravit d’hier à aujourd’hui.
Tu es mon essentiel, mon monde sans toi c’est comme une rivière sans eau, un paradis sans fleur, une phrase sans mot.
Ô mon dieu, et que j’aime la douceur de nos nuits, ton corps contre le mien, la chaleur de tes mains en nos réveils unis.
Tu es ce bel automne, ou je me ressource chaque heure, chaque jour au pays de ta source, au pays de ton coeur.
Comme une eau si fraîche qui me désaltère, sans toi je ne suis qu’un arbre nu et monotone qui se meurt en automne.
Tu es mon bel hiver fait de nos douces nuits pleines de chaleur et de lumière.
La douceur de nos heures au coin d’un feu, ou se retrouvent dans le bonheur deux coeurs amoureux.
Tu es mon doux printemps ou fleurissent les plus belles fleurs aux parfums chatoyants et aux mille senteurs.
Ou j’aime m’abonner à la couleur de tes yeux, à chaque battement de ton coeur qui sait si battre pour deux.
Tu es mon bel été ou ton soleil depuis toutes ces années m’émerveille de sa grâce et de sa beauté.
Tes lèvres ont la couleur de mon espérance, ton merveilleux regard est mon horizon confiance.
Et moi…
Je t’aime autant qu’aimer se peut de t’aimer.