
Setelah misi pertama selesai menginstall Opensuse 10.3, misi selanjutnya adalah mencoba koneksi ke Jaringan Internet Melalui Wifi. Jelas ini penting untuk informasi perlu koneksi jaringan. Proses install automatis Driver ditemukan oleh Opensuse, dan mencoba koneksi melalui Wifi.
Esoknya mencoba di LABO LE2I, ternyata di Wifi LABO tidak ada masalah, bahkan sinyal lebih bagus di banding OS dari M$. Wind-ows. Pulang lagi dicoba ternyata masih sama. Penasaran cek dengan M$. Win, koneksi ngak ada masalah.
Reboot lagi ke Linux, masih sama sehari sebelumnya …. koneksi dapat, tapi pada saat direct oleh portal untuk melalukan Autentikasi Gagal, padahal direct ke portal tersebut berhasil.
Oh iya, kenapa mesti ada ke portal tersebut ? Hal ini untuk Autentikasi user untuk melakukan login di jaringan Wifi. Coba lagi, lagi dan lagi. Ternyata tidak berhasil juga.
Besoknya cari info Mr. wowkeren akh …. mungkin punya solusi. Dari komunikasi lewat Voip sebenarnya sudah jelas, karena aku sudah melalukan semuanya. Karena komunikasi ke Jakarta tidak jelas, dia minta tunggu untuk chating saja.
Dari pembicaraan satu yang belum aku coba, yaitu …. aku perlu menambahkan host di /etc/hosts.
contoh :
x.x.x.x nama_portal
Setelah itu keluar dari script tersebut dan save dengan nama file sama.
x.x.x.x adalah Ip dari portal yang di direct, sedangan nama portal adalah portal yang menjadi alamat direct.
Jangan lupa me-restart networt, selanjut coba …. Eh berhasil ada respon dari portal dan sepersepuluh detik kemudian muncul web loginnya…..
Tak terasa lebaran tahun ini akan berakhir dalam hitungan hari.Hari ini, aku merenung … ternyata ramadhan tahun ini banyak catatan yang sangat berkesan.
Hari ini, aku merenung … ternyata aku masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup di negeri orang.
Dan….
Dari lubuh hati yang paling dalam saya secara pribadi dan mewakili teman-teman dari Dijon dan le Creusot, yaitu
1. Sunny Arief S.
2. Debyo Saptono
3. Elfitrin Syahrul
4. Aries Muslim
5. Brahmantyo Heruseto
6. Rudy TY
7. Ira Puspitawati
8. Dian Kemala Putri
9. Tri Wahyu Retno Ningsih
10. Nur Yuliani
11. Lulu Chaerani M.
12. Ridha Iskandar
13. M. Iqbal (dari Le Creusot)
14. Wisnu (dari Le Creusot)
15. Vina (dari le creusot)
16. Dr. Nur Sultan S. (akan balik 28 September ke Jakarta)
17. Dr. Sri Poernomo Sari (akan balik 28 September ke Jakarta)
mengucapkan;
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
Taqobbalallahu Minna Wa MinkumMinal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
sumber gambar : Mr. KiBoR (Milis GM2020 Gorontalo)
Mungkin di Negara kita belum ada “La journée du Patrimoine” seperti yang dilaksanakan baru-baru ini di Eropa. Pertama melihat dari Iklan yang terpasang di Bus Divia yang menjadi alat transportasi di kota Dijon. Tertulis dengan jelas “Le pass 5 Euro pour voyager en Bourgogne”, dalam hati, wah jalan-jalan selama seharian cuman 5 Euro dapat mengelilingi wilayah Bourgogne (sejenis Provinsi) dengan segala model tranportasi yang tersedia untuk public (kereta dan Bus). Ternyata Kang Sunny juga melihat informasi tersebut, dan dia mencari informasi lebih lengkap dari bagaimana mendapatkan tiket dan mencari rute yang akan dikunjungi.
Oh iya, apa itu “La journée du Patrimoine” ? Dalam arti yang saya ambil dari istilah mbak julia, yaitu “Hari Kebangsaan”. Dimana diseluruh wilayah Perancis melaksanakannya. Namun dibuatlah berdasarkan regional atau wilayah.
Hari I (20 September 2008)
Perjalan dimulai dari Dijon menuju Kota Beaune. Karena berangkat jam 7.15, jadi setela
h sahur langsung menuju GARE (stasion kereta). Kebayang, jam 6.00 sudah harus jemput yuli dan lulu di flat Elfitrin. Diluar angin yang menembus jaket terasa dingin, namun aku harus segera jemput mereka agar tidak ketinggalan kereta.
Ternyata kita adalah kelompok terakhir yang sampai di GARE, 3 kelompok lagi sudah menunggu di dalam stasion. Di ruang tunggu, dengan sering menenggok display jadwal kereta di jalur berapa.
Kereta tiba dengan tepat waktu, perjalanan menempuh kurang lebih 30 menit untuk sampai di Beaune. Waktu 3 jam untuk mengelilingi kota Beaune, sayangnya karena masih pagi banget dan hari Sabtu suasana kotanya masih terlena dalam mimpi. Langkah demi langkah kami menuju Pusat Kota dengan mengikuti penunjuk jalan. Sambil jalan, jika melihat objek yang akan bagus untuk dijadikan background untuk foto bersama.
Masih banyak waktu, tapi rasanya sudah cukup mengelilingi kota Beaune, dan secara perlahan langkah kaki menuju GARE Beaune. Disini kami bertemu dengan rombongan dari Le Creusot untuk bergabung bersama kami untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain.
Macon mempunyai sungai yang indah, dan terlihat lebih modern bangunannya di banding kota Beaune. Karena hanya hanya mempunya waktu 90 menit, kami tidak bisa menikmati lebih lama, karena kereta berikutnya akan mengantarkan kami ke Kota Tournus.
Perjalanan Macon – Tournus 15 menit dengan kereta api. Dan sebagai besar terlihat wajah-wajah kecapean. Mungkin karena puasa atau sudah ngak kuat jalan. Dengan perlahan dengan mencari peta kota Tournus langkah kaki mulai terlihat berat untuk melangkah. Sesekali istrahat hanya untuk melepas pegal, dan berteduh. Akhirnya diputuskan hanya mengunjungi Bangunan Meseum. Karena masih waktu di Tournus ada 1 jam. Sisanya memanfaatkan Jardin (Taman) yang tak jauh dari Meseum.
Kota selanjutnya Chalon-Sur-Saone. Salah seorang rombongan pada tahun ke-2 akan melanjutkan study di kota ini. Ibu Dian senang sekali bisa mengenal kota ini lebih dahulu. Di Chalon-Sur-Saone, kami tidak dapat menikmati lebih lama kota tersebut. Selain waktu nya hanya 17 – 20 menit jadi diputuskan naik Bus Gratis yang keliling kota. Selain itu beberapa rombongan sudah mulai mengeluh tidak kuat jalan.
Perjalan Hari pertama akan berakhir di Le Creusot, dan sekaligus akan menginap di tempat Julia. Untuk sampai ke kota tersebut, harus kembali ke Beaune dan pindah kereta menuju Never. Perjalan ditempuh 40-50 menit termasuk transit di Beaune.
Sialnya …… kereta dari Beaune ke Le Creusot ternyata penuh, akhirnya cari bangku sendiri, bahkan ada yang berdiri selama 30 menit. Dengan sisa tenagaku, aku memutuskan berdisi saja.
Sesampai di GARE Le Creusot, 5 orang rombongon yang sudah tidak kuat jalan menunngu jemputan Suami Julia. Sedangkan sisanya 10 orang jalan kaki sambil melihat2 kota Le Creusot hanya untuk sekedar lewat. Sampai di rumah Julia waktu sudah menunjukkan 19.15. Pertanda buka puasa tinggal 20 menit…. selamat akhirnya kaki bisa diluruskan. Dan rendang sudah tersaji siap di lahap.
Hari II (21 September 2008)
Tujuan kota sebelumnya adalah Never, namun sebagian besar rombongan sudah tidak mampu lagi untuk jalan. Akhirnya jam 10 siang baru keluar dan keliling kota Le Creusot. Itupun hanya masuk Taman, tidak ada yang menarik hanya menunggu waktu jam 1 untuk balik ke Dijon.
Makasih mbak Julia dah memberikan tempat untuk kami istrahat dan makanan yang sangat kami rindukan…. merci beaucoup.
Tahun depan ada lagi Patrimoine ? kita liat aja ke mana tujuan berikutnya.
Saat pertama tiba di Dijon - Perancis, dan kebetulan di undang oleh tuan rumah yang sangat dekat dengan teman Mahasiswa Indonesia di Dijon. Keluarga Bang Ujai panggilan nya. Disinilah kami berbuka puasa pertama di Perancis. Apa yang menjadi makan utamanya yang disebut COUSCOUS. Pertama melihatnya seperti nasi, ternyata bukan … couscous yang katanya bahan dasarnya ada yang mengatakan Gandum, ada pula yang mengatakan dari Beras. Tapi kalo menurut aku, bahan dasarnya adalah Gandum … Secara gitu loh…. mana ada berasnya halus-halus.
Couscous sebenarnya bukan asli dari perancis, tapi sekarang menjadi salah satu menu di perancis. Bahkan sudah banyak dibuat dalam kemasan kalengan atau box. Asalnya sebenarnya dari warga Afrika Utara. informasi lebih lengkap lihat di sini